HIKMAH DIBALIK CIPTAAN-NYA

29 Juli 2008

Renungkanlah…

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh

selalu melihat ke belakang.

Akan tetapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa

mendengarkan semuanya dari dua buah sisi.

Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.

Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita.

Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya.

Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran

kita dan ide kita.

Dan apa yang anda pikiran dalam otak anda jauh lebih berharga dari pada emas

dan perhiasan.

Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut.

Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa

membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan.

Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah

sebanyak-banyaknya.

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita.

Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal

dari hati kita yang paling dalam.

Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan

pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai

dia.

Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh

lebih indah.

el’


JIhad Fi Sabilillah

20 Juli 2008

Apakah Jihad itu? Allah sudah menetapkannya di dalam Al Qur’an pada Surah Ali Imran : 142 “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” Beberapa pengertian jihad adalah berperang untuk menegakkan agama Allah (Islam) di muka bumi ini dan melindungi orang Islam, memerangi hawa nafsu, mendermakan harta untuk kebaikan Islam dan umat Islam serta memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran (Amar ma’ruf nahi munkar). Begitulah Islam nengajarkan kita tentang jihad yang Insya Allah akan mengantarkan kita ke Jannah-Nya.Saudaraku… Jika seorang muslin dan muslimah tidak peduli tentang makna jihad, maka Islam akan hancur. Orang-orang kafir akan mudah menyerang Islam dan membinasakan umat Islam. Duniapun menjadi penuh kozholiman dan tidak ada lagi kalimat Lailaahaillallah di muka bumi ini. Naudzubillahi mindzalik! Masih ingatkah kita dengan perjuangan (jihad) yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat? Hendaknya kita tetap terus dapat melaksanakan apa yang telah diajarkan Allah dan RasulNya. Memang, jiahd yang kita lakukan sekarang ini bukan hanya jihad berperang melawan orang-orang kafir dengan strategi perang yang dibawa Rasulullah kepada para sahabatnya jihad yang kita lakukan ini haruslah disesuaikan dengan kondisi zaman dan keadaan kita yang jauh berbeda dengan zaman Rasulullah. Ini tidak hanya zaman penuh teknologi, namun juga zaman yang identik denga persaingan, perlombaan untuk menjadi pemimpin.

Kita sebagai aktivis dakwah harus menanamkan jiwa jihad di dalam diri kita. Karena dakwah tiaka akan maju tanpa jihad yang kita lakukan. Jihad yang sungguh-sunguh akan bernilai dan mendapat imbalan dari Allah SWT. Firman Allah dalam QS. Ali Imran : 148 “ Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”. Lihatlah umat Islam yang di luar seperti di Irak dan Palestina. Mereka sedang berjihad melawan orang-orang kafir dan Yahudi. Banyak nyawa dan harta yang hilang dan habis dalam perang itu. Ada anak yang kehilangan orang tuanya, istri yang ditinggal syahid oleh suaminya dan ibu yang ditinggal pergi anaknya selama-lamanya. Semua itu telah menjadi pemandangan yang biasa dan tak mengherankan lagi. “Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya” (QS. Ali Imran : 143) Saudaraku…Kita sebagai muslim dan muslimah yang hidup di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Islam, hendaknya bersyukur karena jihad yang kita lakukan belumlah seperti yan dilakukan saudara-saudara kita seperti di Irak dan Palestina. Walaupun begitu, kita terus berjihad paling tidak jihad melawan hawa nafsu. Karena di negara kita terkenal dengan peringkat 5 besar terkorup di dunia. lawanlah hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang dapat merugikan banyak orang dan dermakanlah harta demi Islam. “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran : 134). Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah melakukan jihad yang sesuai dengan firaman Allah dan yang telah diajarkan Rasulullah? Apakah kita tidak menginginkan syahid di jalanNya? Marilah bersama-sama kita bertemu di surgaNya dengan berjihad fi sabilillah.

By : Afifah Khoir (Ukhti Lubis)


C I N T A

2 Juli 2008

Muhya Ad-Din Al-Arabi berkata : “Siapapun yang hendak mendefenisikan arti kata cinta, niscaya dia akan gagal. Seseorang yang belum pernah mereguk manisnya madu cinta tidak akan mampu untuk menguraikan isi kandungannya. Dan jika ada orang yang berkata ia telah terpuaskan oleh cinta, maka sesungguhnya dia tidak pernah merasakannya sebab cinta itu ibarat minuman yang memabukkan yang tidak akan pernah mempuat puas para peminumnya”

Cinta itu bermacam-macam, ada yang tertancap di sanubari, dan ada yang hanya bertengger di permukaan hati, kemudian ada yang bagaikan pohon yang akarnya terhujam ke bumi dan di puncaknya banyak buah, tetapi ada pula yang seumur mawar sekejap saja kemudian layu. Ketika seseorang telah dijangkiti virus cinta biasanya tidak akan mampu lagi berfikir jernih. Hati yang dilanda cinta akan senantiasa merindukan kekasih yang di cintai sehingga akan menjadikannya diperbudak oleh hawa nafsu dan menjadi bulan-bulanan setan yang menjajah lewat getaran-getaran kalbu, kecuali cinta yang dirahmati oleh yang Maha Pemberi cinta. Karena itu, jagalah cinta dalam hati karena hati ibarat raja dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya buruk, maka buruk pulalah pasukannya begitu juga sebaliknya. Cinta yang dikemas dalam nuansa indah untuk menggapai ridho Illahi akan memberikan semerbak wangi surgawi, namun jika cinta dikotori nafsu syahwat, maka akan meninggalkan bau busuk dikemudian hari. Maka dari itu, jika tidak bisa memiliki apa yang dicintai, hendaklah mencintai apa yang sudah dimiliki. Cintailah siapa yang sudah menunjukkan bukti dan waspadailah yang masih berjanji, karena cinta yang tertinggi itu hanya untuk Allah dan Rasulnya.