Peran Komputer bagi Pendidikan Anak

20 Juli 2008

Sebagai media tutorial, komputer memiliki keunggulan dalam hal interaksi, menumbuhkan minat belajar mandiri serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa/anak. Tetapi interaksi komputer dengan manusia belum dapat menggantikan interaksi manusia dengan manusia, selain itu mempunyai kelemahan lain yaitu kemauan belajar mandiri yang masih rendah. Komputer sebagai alat uji memiliki keunggulan dalam keobyektifan, ketepatan dan kecepatan dalam penghitungan tetapi masih belum dapat menilai soal-soal essai, pendapat dan hal yang terkait dengan moral dan etika. Yang terakhir, sebagai media alat peraga, komputer mempunyai kelebihan dapat memperagakan percobaan tanpa adanya resiko, tetapi membutuhkan waktu dalam pengembangannya.

Sebelum memperkenalkan komputer kepada anak, orangtua maupun guru seharusnya dapat memahami perkembangan pemahaman anak, dimana pada usia 0-2 tahun anak mendapatkan pemahamannya dari penginderaannya. Kemudian usia 2-7 tahun anak mulai belajar menggunakan bahasa, angka dan simbol-simbol tertentu. Pada usia 7-12 tahun anak mulai dapat berpikir logis, terutama yang berhubungan dengan objek yang tampak langsung. Yang saat ini perlu menjadi perhatian bagi orangtua maupun guru adalah bagaimana cara memperkenalkan komputer kepada anak. Hal yang perlu dicoba adalah dengan program-program aplikasi (software) yang bersifat “Edutainment” yaitu perpaduan antara education (pendidikan) dan entertainment (hiburan). Selain itu program (software) aplikasi “Edutainment” tersebut mempunyai kemampuan menumbuhkembangkan kreatifitas dan imajinasi anak serta melatih saraf motorik anak. Contohnya program permainan kombinasi benda, menyusun benda atau gambar (Puzzle) serta program berhitung dan software-software lain yang didukung perangkat multimedia.

Selain program aplikasi (software), dunia internet semakin berarti bagi anak-anak. Internet memungkinkan anak mengambil dan mengolah ilmu pengetahuan ataupun informasi dari situs-situs yang dikunjunginya tanpa adanya batasan jarak dan waktu. Di samping itu masih ada manfaat lain yang didapat dari internet, misalnya surat menyurat (E-mail), berbincang (chatting), mengambil dan menyimpan informasi (download). Untuk perkembangan pendidikan selanjutnya teknologi “Teleconference” (Konferensi interaktif secara on line dari jarak jauh) dirasakan sudah pantas di coba dan dikembangkan, karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis.


Dari Siti Nurbaya Sampai Ayat-Ayat Cinta

20 Juli 2008

Dalam sebuah diskusi, seorang teman mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik. Dahulu, pada masa Orde Baru, banyak pembuat film mengeluh akan ketiadaan kebebasan. Sehingga mereka tak membuat film yang memuat kritik dan protes, terutama kepada pemerintah. Sekarang Zaman sudah berubah. Mengapa mereka tak membuat film-film yang kritis? Mengapa tema yang muncul cenderung itu-itu saja? Mengapa film cinta, film remaja dan film horor yang terus menerus keluar di bioskop? “FILM SEPERTI APA YANG DITUNGGU-TUNGGU OLEH MASYARAKAT INDONESIA?” Bicara tentang film, Indonesia mempunyai catatan panjang tentang dunia yang satu ini, dibawah naungan tertinggi Festival Film Indonesia (FFI) yang merupakan ajang perhargaan tertinggi bagi dunia perfilman di In-donesia. Pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 dan berlanjut di tahun 1960 dan 1967 (dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional), sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973. Pada tahun itu pula mulai diberikan penghargaan Piala Citra. Mulai penyelenggaraan tahun 1979, sistem Unggulan (Nominasi) mulai dipergunakan. Walaupun sempat terhenti pada tahun 1992, dan baru diselenggarakan kembali tahun 2004. Pada perkembangannya, FFI dinilai ampuh dalam berperan membangkitkan film Indonesia. Namun sadar tidak sadar, film-film yang selama ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat beragama islam ini, ternyata dikuasai oleh orang-orang yang ingin menghancurkan Islam. Kata menghancurkan disini perlu digaris bawahi, karena dia mengandung 2 arti, yaitu :

1. Ingin menghancurkan Islam dengan sengaja (diniatkan)

2. Menghancurkan Islam dengan tidak sengaja (tidak diniatkan)

Apa Yang Diinginkan Dari Sebuah Film/Tayangan Televisi? Pertanyaan ini mengingatkan saya pada sinetron Bajaj Badjuri. Saat itu Si Said kedatangan pamannya dari Arab yang tidak bisa bahasa Indonesia, dia hanya bisa bahasa Arab. Sang Paman dan Si Said diundang ke acara selametan Mpok Minah. Saat paman Si Said bicara pada Said dalam bahasa Arab, pembicaraan biasa-biasa saja dan bukan do’a. Tetangga-tetangga Si Said termasuk Pak RT, Ucup, Emak, Badjuri dll bilang …”Amien…Amien” menganggap yang dikatakan Pamannya Si Said adalah do’a. Ini merupa-kan sindiran bahwa orang kita tidak pernah paham substansi sebuah makna. Apalagi makna beragama. Beralih ke layar lebar, masyarakat Indonesia tentunya sudah sangat bosan dengan film-film horor yang sudah pasti ceritanya basi abis, sampai sekarang film-film yang kerjanya nakutin orang dan bikin khurafat menjadi antrean wajib dijajaran bioskop-bioskop tanah air, selalu ada hantu-hantu keluaran baru hasil adaptasi produser-produser yang berharap mendapatkan keuntungan dari menakut-nakuti orang di bioskop. Secara adegan yang benar-benar mendidik dalam film-film berbasic kuburan ini sama jarangnya dengan jumlah orang jujur di DPR. Ditambah lagi masyarakat selalu dijejali sinetron-sinetron yang mudharatnya sama banyaknya dengan uang yang dikorupsi para pejabat. Inilah fenomena yang tak bisa dihilangkan dari wajah perfilman Indonesia.

Setelah terbangun dari tidur panjangnya, film Indonesia seakan tak pernah bisa lepas dari mistis dan mengandalkan mahluk halus sebagai bintang utamanya. Sayangnya para pecinta film Indonesia tidak diberikan alternative film-film yang menyuguhkan ruh Islami, mereka tidak punya opsi lebih kecuali film-film khurafat dan romantika cinta anak muda.Film tempat terbaik untuk menyampaikan pesan Dibandingkan dengan media lain, film memiliki kemampuan untuk meniru kenyataan sedekat mungkin dengan kenyataan sehari-hari. Tentu yang saya maksud di sini adalah film live action (bukan film animasi) sekaligus film yang bercerita (film naratif, lawannya adalah film eksperimental yang tidak mengandung narasi atau cerita). Dulu memang mungkin sulit untuk membuat film-film bernuansa islami, jangankan membuat film islami, memakai jilbab saja tidak boleh. bahkan ternyata bukan film-film islami saja yang sulit dibumikan, film-film yang dianggap mengusik pemerintah langsung didepak dari peredaran, sebut saja film berjudul Bung Kecil (1978), yang kena cekal pemerintah karena isinya tentang orang muda yang melawan feodalisme. Kemudian film berjudul Wasdri (1977), skenarionya dianggap bisa menyinggung pejabat Kejaksaan Agung, karena Wasdri, buruh angkut di Pasar Senen, Jakarta, hanya diberi upah oleh seorang istri jaksa hanya separuh dari yang biasanya ia terima.

Karena Pengaruh Film Begitu Besar Anak-anak SMP dan SMA muslim di Indonesia (ikhwan dan akhwat) pernah tersihir oleh F4, dalam sekejap tren rambut artis Taiwan itu langsung jd model terkini yang kudu diikutin anak-anak muda muslim, lagu-lagunya jd bahan adu gengsi disekolah, wajah Indonesia tapi gaya ke F4-F4 -an, yang akhwatnya pun seperti dirasa perlu untuk mengoleksi poster-poster mereka. Ini sama saja dengan lidah ke Perancis-Perancisan bagi orang Jerman dan Rusia pada abad 17, dimana bahasa Perancis adalah bahasa Dewa sementara bahasa Jerman dan Rusia cukup buat bicara dengan kuda. Sampai kapanpun, anak SMP, SMA sampai mahasiswa yang beragama islam seharusnya mencerminkan keislamannya, bukan malah sebagian gaya hidupnya raib dijajah style budaya non muslim. Ayat-Ayat cinta “Pemerintah kita tidak pernah punya strategi yang cukup untuk mengembangkan perfilman Indonesia. Sampai saat ini, film di Indonesia belum juga menjadi identitas budaya nasional,” Riri Riza. Pada film Siti nurbaya yang menceritakan seorang gadis yang dipaksa menikah dengan seorang tuan tanah yang kaya, memberikan gambaran pada zamannya, sampai zaman beralih dan matahari membawa cahaya baru bagi perfilman Indonesia dengan menghadirkan Ayat-Ayat Cinta. Film Ayat-ayat cinta, walaupun tidak sebagus novelnya, tetap saja film Islami, sosok Fahri diharapkan dapat menjadi contoh teladan bagi kalangan muda yang linglung mencari uswatun hasanah dari film-film layar lebar. Bukan Dibyo dalam film “Maaf Saya Menghamili Istri Anda” (Ringgo Agus Rahman, dalam penampilan yang hampir me-reset ke-overeksposannya), atau seorang penyanyi band yang wajahnya tertutup rambut gondrong dan penuh tato seperti yang dihadirkan dalam film D’Bijis. Saya rasa sudah berhasil menjawab pertanyaan “FILM SEPERTI APA YANG DITUNGGU -TUNGGU OLEH MASYARAKAT INDONESIA?”

By : Andika S.


JIhad Fi Sabilillah

20 Juli 2008

Apakah Jihad itu? Allah sudah menetapkannya di dalam Al Qur’an pada Surah Ali Imran : 142 “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” Beberapa pengertian jihad adalah berperang untuk menegakkan agama Allah (Islam) di muka bumi ini dan melindungi orang Islam, memerangi hawa nafsu, mendermakan harta untuk kebaikan Islam dan umat Islam serta memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran (Amar ma’ruf nahi munkar). Begitulah Islam nengajarkan kita tentang jihad yang Insya Allah akan mengantarkan kita ke Jannah-Nya.Saudaraku… Jika seorang muslin dan muslimah tidak peduli tentang makna jihad, maka Islam akan hancur. Orang-orang kafir akan mudah menyerang Islam dan membinasakan umat Islam. Duniapun menjadi penuh kozholiman dan tidak ada lagi kalimat Lailaahaillallah di muka bumi ini. Naudzubillahi mindzalik! Masih ingatkah kita dengan perjuangan (jihad) yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat? Hendaknya kita tetap terus dapat melaksanakan apa yang telah diajarkan Allah dan RasulNya. Memang, jiahd yang kita lakukan sekarang ini bukan hanya jihad berperang melawan orang-orang kafir dengan strategi perang yang dibawa Rasulullah kepada para sahabatnya jihad yang kita lakukan ini haruslah disesuaikan dengan kondisi zaman dan keadaan kita yang jauh berbeda dengan zaman Rasulullah. Ini tidak hanya zaman penuh teknologi, namun juga zaman yang identik denga persaingan, perlombaan untuk menjadi pemimpin.

Kita sebagai aktivis dakwah harus menanamkan jiwa jihad di dalam diri kita. Karena dakwah tiaka akan maju tanpa jihad yang kita lakukan. Jihad yang sungguh-sunguh akan bernilai dan mendapat imbalan dari Allah SWT. Firman Allah dalam QS. Ali Imran : 148 “ Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”. Lihatlah umat Islam yang di luar seperti di Irak dan Palestina. Mereka sedang berjihad melawan orang-orang kafir dan Yahudi. Banyak nyawa dan harta yang hilang dan habis dalam perang itu. Ada anak yang kehilangan orang tuanya, istri yang ditinggal syahid oleh suaminya dan ibu yang ditinggal pergi anaknya selama-lamanya. Semua itu telah menjadi pemandangan yang biasa dan tak mengherankan lagi. “Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya” (QS. Ali Imran : 143) Saudaraku…Kita sebagai muslim dan muslimah yang hidup di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Islam, hendaknya bersyukur karena jihad yang kita lakukan belumlah seperti yan dilakukan saudara-saudara kita seperti di Irak dan Palestina. Walaupun begitu, kita terus berjihad paling tidak jihad melawan hawa nafsu. Karena di negara kita terkenal dengan peringkat 5 besar terkorup di dunia. lawanlah hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang dapat merugikan banyak orang dan dermakanlah harta demi Islam. “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran : 134). Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah melakukan jihad yang sesuai dengan firaman Allah dan yang telah diajarkan Rasulullah? Apakah kita tidak menginginkan syahid di jalanNya? Marilah bersama-sama kita bertemu di surgaNya dengan berjihad fi sabilillah.

By : Afifah Khoir (Ukhti Lubis)