Dalam sebuah diskusi, seorang teman mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik. Dahulu, pada masa Orde Baru, banyak pembuat film mengeluh akan ketiadaan kebebasan. Sehingga mereka tak membuat film yang memuat kritik dan protes, terutama kepada pemerintah. Sekarang Zaman sudah berubah. Mengapa mereka tak membuat film-film yang kritis? Mengapa tema yang muncul cenderung itu-itu saja? Mengapa film cinta, film remaja dan film horor yang terus menerus keluar di bioskop? “FILM SEPERTI APA YANG DITUNGGU-TUNGGU OLEH MASYARAKAT INDONESIA?” Bicara tentang film, Indonesia mempunyai catatan panjang tentang dunia yang satu ini, dibawah naungan tertinggi Festival Film Indonesia (FFI) yang merupakan ajang perhargaan tertinggi bagi dunia perfilman di In-donesia. Pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 dan berlanjut di tahun 1960 dan 1967 (dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional), sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973. Pada tahun itu pula mulai diberikan penghargaan Piala Citra. Mulai penyelenggaraan tahun 1979, sistem Unggulan (Nominasi) mulai dipergunakan. Walaupun sempat terhenti pada tahun 1992, dan baru diselenggarakan kembali tahun 2004. Pada perkembangannya, FFI dinilai ampuh dalam berperan membangkitkan film Indonesia. Namun sadar tidak sadar, film-film yang selama ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat beragama islam ini, ternyata dikuasai oleh orang-orang yang ingin menghancurkan Islam. Kata menghancurkan disini perlu digaris bawahi, karena dia mengandung 2 arti, yaitu :
1. Ingin menghancurkan Islam dengan sengaja (diniatkan)
2. Menghancurkan Islam dengan tidak sengaja (tidak diniatkan)
Apa Yang Diinginkan Dari Sebuah Film/Tayangan Televisi? Pertanyaan ini mengingatkan saya pada sinetron Bajaj Badjuri. Saat itu Si Said kedatangan pamannya dari Arab yang tidak bisa bahasa Indonesia, dia hanya bisa bahasa Arab. Sang Paman dan Si Said diundang ke acara selametan Mpok Minah. Saat paman Si Said bicara pada Said dalam bahasa Arab, pembicaraan biasa-biasa saja dan bukan do’a. Tetangga-tetangga Si Said termasuk Pak RT, Ucup, Emak, Badjuri dll bilang …”Amien…Amien” menganggap yang dikatakan Pamannya Si Said adalah do’a. Ini merupa-kan sindiran bahwa orang kita tidak pernah paham substansi sebuah makna. Apalagi makna beragama. Beralih ke layar lebar, masyarakat Indonesia tentunya sudah sangat bosan dengan film-film horor yang sudah pasti ceritanya basi abis, sampai sekarang film-film yang kerjanya nakutin orang dan bikin khurafat menjadi antrean wajib dijajaran bioskop-bioskop tanah air, selalu ada hantu-hantu keluaran baru hasil adaptasi produser-produser yang berharap mendapatkan keuntungan dari menakut-nakuti orang di bioskop. Secara adegan yang benar-benar mendidik dalam film-film berbasic kuburan ini sama jarangnya dengan jumlah orang jujur di DPR. Ditambah lagi masyarakat selalu dijejali sinetron-sinetron yang mudharatnya sama banyaknya dengan uang yang dikorupsi para pejabat. Inilah fenomena yang tak bisa dihilangkan dari wajah perfilman Indonesia.

Setelah terbangun dari tidur panjangnya, film Indonesia seakan tak pernah bisa lepas dari mistis dan mengandalkan mahluk halus sebagai bintang utamanya. Sayangnya para pecinta film Indonesia tidak diberikan alternative film-film yang menyuguhkan ruh Islami, mereka tidak punya opsi lebih kecuali film-film khurafat dan romantika cinta anak muda.Film tempat terbaik untuk menyampaikan pesan Dibandingkan dengan media lain, film memiliki kemampuan untuk meniru kenyataan sedekat mungkin dengan kenyataan sehari-hari. Tentu yang saya maksud di sini adalah film live action (bukan film animasi) sekaligus film yang bercerita (film naratif, lawannya adalah film eksperimental yang tidak mengandung narasi atau cerita). Dulu memang mungkin sulit untuk membuat film-film bernuansa islami, jangankan membuat film islami, memakai jilbab saja tidak boleh. bahkan ternyata bukan film-film islami saja yang sulit dibumikan, film-film yang dianggap mengusik pemerintah langsung didepak dari peredaran, sebut saja film berjudul Bung Kecil (1978), yang kena cekal pemerintah karena isinya tentang orang muda yang melawan feodalisme. Kemudian film berjudul Wasdri (1977), skenarionya dianggap bisa menyinggung pejabat Kejaksaan Agung, karena Wasdri, buruh angkut di Pasar Senen, Jakarta, hanya diberi upah oleh seorang istri jaksa hanya separuh dari yang biasanya ia terima.

Karena Pengaruh Film Begitu Besar Anak-anak SMP dan SMA muslim di Indonesia (ikhwan dan akhwat) pernah tersihir oleh F4, dalam sekejap tren rambut artis Taiwan itu langsung jd model terkini yang kudu diikutin anak-anak muda muslim, lagu-lagunya jd bahan adu gengsi disekolah, wajah Indonesia tapi gaya ke F4-F4 -an, yang akhwatnya pun seperti dirasa perlu untuk mengoleksi poster-poster mereka. Ini sama saja dengan lidah ke Perancis-Perancisan bagi orang Jerman dan Rusia pada abad 17, dimana bahasa Perancis adalah bahasa Dewa sementara bahasa Jerman dan Rusia cukup buat bicara dengan kuda. Sampai kapanpun, anak SMP, SMA sampai mahasiswa yang beragama islam seharusnya mencerminkan keislamannya, bukan malah sebagian gaya hidupnya raib dijajah style budaya non muslim. Ayat-Ayat cinta “Pemerintah kita tidak pernah punya strategi yang cukup untuk mengembangkan perfilman Indonesia. Sampai saat ini, film di Indonesia belum juga menjadi identitas budaya nasional,” Riri Riza. Pada film Siti nurbaya yang menceritakan seorang gadis yang dipaksa menikah dengan seorang tuan tanah yang kaya, memberikan gambaran pada zamannya, sampai zaman beralih dan matahari membawa cahaya baru bagi perfilman Indonesia dengan menghadirkan Ayat-Ayat Cinta. Film Ayat-ayat cinta, walaupun tidak sebagus novelnya, tetap saja film Islami, sosok Fahri diharapkan dapat menjadi contoh teladan bagi kalangan muda yang linglung mencari uswatun hasanah dari film-film layar lebar. Bukan Dibyo dalam film “Maaf Saya Menghamili Istri Anda” (Ringgo Agus Rahman, dalam penampilan yang hampir me-reset ke-overeksposannya), atau seorang penyanyi band yang wajahnya tertutup rambut gondrong dan penuh tato seperti yang dihadirkan dalam film D’Bijis. Saya rasa sudah berhasil menjawab pertanyaan “FILM SEPERTI APA YANG DITUNGGU -TUNGGU OLEH MASYARAKAT INDONESIA?”
By : Andika S.