C I N T A

2 Juli 2008

Muhya Ad-Din Al-Arabi berkata : “Siapapun yang hendak mendefenisikan arti kata cinta, niscaya dia akan gagal. Seseorang yang belum pernah mereguk manisnya madu cinta tidak akan mampu untuk menguraikan isi kandungannya. Dan jika ada orang yang berkata ia telah terpuaskan oleh cinta, maka sesungguhnya dia tidak pernah merasakannya sebab cinta itu ibarat minuman yang memabukkan yang tidak akan pernah mempuat puas para peminumnya”

Cinta itu bermacam-macam, ada yang tertancap di sanubari, dan ada yang hanya bertengger di permukaan hati, kemudian ada yang bagaikan pohon yang akarnya terhujam ke bumi dan di puncaknya banyak buah, tetapi ada pula yang seumur mawar sekejap saja kemudian layu. Ketika seseorang telah dijangkiti virus cinta biasanya tidak akan mampu lagi berfikir jernih. Hati yang dilanda cinta akan senantiasa merindukan kekasih yang di cintai sehingga akan menjadikannya diperbudak oleh hawa nafsu dan menjadi bulan-bulanan setan yang menjajah lewat getaran-getaran kalbu, kecuali cinta yang dirahmati oleh yang Maha Pemberi cinta. Karena itu, jagalah cinta dalam hati karena hati ibarat raja dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya buruk, maka buruk pulalah pasukannya begitu juga sebaliknya. Cinta yang dikemas dalam nuansa indah untuk menggapai ridho Illahi akan memberikan semerbak wangi surgawi, namun jika cinta dikotori nafsu syahwat, maka akan meninggalkan bau busuk dikemudian hari. Maka dari itu, jika tidak bisa memiliki apa yang dicintai, hendaklah mencintai apa yang sudah dimiliki. Cintailah siapa yang sudah menunjukkan bukti dan waspadailah yang masih berjanji, karena cinta yang tertinggi itu hanya untuk Allah dan Rasulnya.


KIAT MEMENANGKAN BEASISWA

2 Juli 2008

Pada era globalisasi di mana setiap orang mempunyai hak mendapatkan kehidupan yang lebih baik di seluruh muka Bumi, akan membuat persaingan pencari kerja semakin keras. Oleh karena itu, setiap orang harus membekali dirinya untuk bisa menang dalam mendapatkan pekerjaan, atau mampu membuka lapangan kerja bagi dirinya sendiri. SALAH satu cara membekali diri adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas, baik di dalam ataupun di luar negeri. Namun, mendapatkan pendidikan yang berkualitas bukanlah yang mudah dan murah. Bagi orang berpunya, mereka akan mampu membiayai sendiri. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak punya cukup uang? Salah satu jalan adalah beasiswa, namun untuk mendapatkannya juga bukan hal yang mudah. Ada ratusan bahkan ribuan orang berpotensi yang juga ingin mendapatkan beasiswa yang jumlahnya sangat terbatas. Untuk mencoba beasiswa dari luar negeri, juga bukan hal mudah. Selain, karena harus bersaing dengan peminat dari negara-negara lain dan persyaratan yang tidak mudah, juga karena informasi mengenai beasiswa itu masih sedikit. Beberapa yayasan pemberi beasiswa seperti AMINEF, memang mengiklankan di media massa. Namun, seringkali beasiswa yang ditawarkan tidak sesuai dengan minat yang ingin dikembangkan.
SELAIN dari mailing list beasiswa seperti http://groups.yahoo.com/group/beasiswa dan berbagai situs beasiswa semisal www.milisbeasiswa.com, www. rumahbeasiswa.com ataupun http: //infobeasiswa1.blogspot.com/, informasi beasiswa juga bisa didapat dengan tiga cara. Pertama, mendaftar ke badan pemberi beasiswa. Misalnya Yayasan Sampoerna, Aminef untuk beasiswa Fulbright, dan British Council untuk Chevening Award. Kedua, peminat bisa langsung mendaftar ke universitas yang diinginkan ataupun bisa langsung melihat info dan syarat yang ditentukan di portal bersangkutan.
Ketiga, melalui penelitian. Biasanya jika seorang profesor atau universitas ingin melakukan penelitian besar, mereka membutuhkan asisten. Asisten ini akan dibayar, dan uangnya bisa dipakai biaya studi dan biaya hidup. Biasanya, mereka akan mendapatkan biaya studi lebih murah karena mereka bekerja untuk universitas. Lagi pula, proyek penelitian seperti ini akan memakan waktu minimal lima tahun, waktu yang cukup panjang untuk studi.
Dari ketiga cara mendapatkan beasiswa itu, hal terpenting yang harus dipegang peminat beasiswa adalah memenuhi syarat yang diminta. Jika memang diperlukan nilai TOEFL/IELTS (standar nilai kemampuan berbahasa Inggris), pastikan memilikinya. Begitu juga bila diperlukan syarat kecakapan matematik seperti GMAT, dan lainnya. Menurut Pangesti Wiedarti, dosen Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Yogyakarta yang juga penerima beasiswa doktor di bidang linguistik Universiy of Sydney, sebaiknya peminat beasiswa mencari beasiswa tidak di satu universitas saja. “Carilah di beberapa universitas agar mendapatkan beasiswa yang benar-benar cocok,” ujar Pangesti. Sidrotun Na’im, penerima beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) 2003 me- ngatakan, peminat beasiswa dari Indonesia bagian timur memiliki peluang lebih besar daripada peminat Indonesia bagian barat. Sepertiga dari jatah beasiswa ADS yang ada diberikan untuk Indonesia timur. “Jika dilihat dari potensi dan kondisi Indonesia timur, peminat Indonesia timur memiliki peluang lebih besar,” kata Sidrotun. (Kompas dan berbagai sumber)


Manusia dan Sejarah

2 Juli 2008

Berapakah luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada setiap manusia, untuk dimaknai, dihidupkan, lalu diabadikan? Apakah manusia, dalam perhitungan sejarah, memaknai dirinya dengan waktu atau biaya? Sejarah, pada mulanya menggunakan deret waktu. Di sini, setiap manusia menjadi setetes air di laut sejarah. Setetes air itu bernama umur. Dan kumpulan tetes-tetes itu disebut sejarah. Kita semua sejarah, dan tak ada yang lepas dari padanya. Air itu selalu mengalir. Sejarah pun begitu. Ia adalah sebuah suasana mengalir yang tak pernah selesai. Ia hanya akan berhenti pada sebuah tempat yang kita sebut Padang Mahsyar. Tapi ke manakah sejarah mengalir? Dan mengapa selalu ada riak dan gelombang? Pernahkah anda menanyakan, siapakah tetes-tetes air yang menjadi riak itu? Riak-riak itu ialah tetes-tetes yang menyatu dalam laut. Dan gelombang ialah manusia-manusia sejarah. Tak semua air menjadi gelombang, sekalipun semuanya punya peluang yang sama menjadi gelombang. Lalu apakah yang membuat tetes-tetes air itu menjadi gelomb g? Jawabannya adalah angin!! Inilah yang menanamkan ‘kehendak’ pada tetes-tetes air itu untuk menjadi gelombang. Ketika ‘sentuhan’ angin itu menguat, gelora kehendak juga akan menciptakan gelombang yang dahsyat. Angin itu adalah iman. Iman, terserah ia diberikan kepada kebenaran atau kebathilan, adalah rahasia di balik semua keajaiban sejarah. Iblis-lah yang menanamkan iman kepada kebathilan dalam diri manusia, hingga ia berkehendak menciptakan dauatul bathil. Dan, rasul-rasul sepanjang sejarah, adalah utusan Allah yang bertugas menanamkan iman kepada kebenaran dalam diri manusia, hingga lahirlah daripadanya daulatul haq. Semua manusia besar yang pernah hadir dalam sejarah, kata Sayyid Quthb, selalu mempunyai kelebihan yang amat menonjol pada kekuatan jiwa. Rahasia ini pula yang kita tangkap dari strategi Rasulullah SAW. ketika beliau ingin melahirkan pemimpin-pemimpin baru bagi manusia. Apa yang paling menonjol pada sahabat-sahabat Rasulullah SAW bukan terutama kecerdasan, sekalipun itu ada, tapi adalah iman. Kata iman dalam pembahasan Al Qur’an, selalu membawa nuansa ‘gerak’ yang amat dalam. Iman adalah landasan abadi di atas mana akal melaju menaiki tangga menuju angkasa. Iman adalah rahasia darimana raga memperoleh kekuatan yang tidak diketahuinya. Kekuatan gerak pribadi bermula ketika iman merasuki jiwa, menggelorai hati, lalu bergemuruh dalam setiap sisi instrumen kepribadian kita. Bila keadaan yang sama merasuk ke dalam jiwa dan hati sebuah masyarakat secara kolektif, engkau niscaya akan menemukan gelombang yang dahsyat dalam sejarah.

Setiap kita, manusia, selalu akan memperoleh tempat dalam sejarah, bila kita mau membentangkan benang merah, yang menjalin gemuruh kehendak dalam jiwa dengan gemuruh gerak ombak dalam laut sejarah. Maka saat-saat ’pasang’ dalam sejarah Islam, kata Syekh Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi, selalu bergerak sejajar dengan iman. Dan saat-saat ‘surut’, sebaliknya, selalu bergerak sejajar dengan kelemahan iman.Maka dari itu yang sanggup mengusung peradaban memakmurkan bumi ini menjadi lebih baik hanya ada di tangan para pemimpin yang tercerahkan oleh wahyu Tuhan. Kita teramanati sebagai “khalifah” oleh Allah Yang Maha Esa (QS; Al-Baqarah:30). Hakikatnya seorang khalifah bukan hanya seorang “pemimpin”tapi juga sebagai “arsitek” karena dalam hal ini dia juga teramanati untuk “merawat” dan “membangun peradaban”ardhun secara keumuman-keumuman “pembangun”. Dengan kata peradaban di belakangnya berati “pembangun peradaban”.Dan siapa arsitek peradaban itu? adalah kita, Ya kita, MANUSIA. Peradaban adalah hasil budaya manusia pada masa manusia tersebut hidup dan bermasyarakat (Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.). Dalam antropologi kebudayaan, manusia dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. (Wikipedia Indonesia) Dalam konteks “arsitek pradaban” bisa dikatakan sadar tidak sadar dan langsung tidak langsung. Yang mana kedepannya sadar akan ‘bersinonim” dengan langsung dan tidak sadar akan “bersinonim dengan tidak langsung. Dan keduanya akan berantonim secara pasangan. Secara sadar atau langsung, dalam posisinya manusia sebagai “kholifah” yang teramanati untuk menjaga ardhun beserta isinya Secara tidak langsung atau tidak sadar, adalah fitrahnya sebagai mahluk sosial, dengan pernikahan misalnya.Karena dalam pernikahan sejatinya ada “peradaban” yang kita bangun disana. Bukan saja menyempurnakan agama dan “penyelamatan” diri atas “syahwat yang negatif”. Ala kuli hal, setiap dari kita adalah “arsitek peradaban”, dan itu tidaklah mudah memang. Membutuhkan kesabaran dan kejuhudan yang diringi dengan ketaqwaan kepada Illahi Rabbi. (Wallahu ‘alam bi showab).